Contoh kasus

Kasus

Seorang anak laki-laki yang lahir tanpa mengetahui  siapa ayahnya dan hanya hidup dengan ibu beserta neneknya. Ketika masa perkembangan kepribadian tahap oral terpenuhi namu keitika memasuki tahap anal ia mendapat sedikit kekangan dari sang ibu, hal ini mengakibatkan dirinya menjadi kurang berani,kurang bebas, dan tertekan.

Menjadi anak satu-satunya dan dibesarkan oleh seorang ibu tanpa ayah membuatnya selalu dimanja oleh ibunya. Hal ini membuat sang anak selalu ingin diperhatikan dan apapun keinginan dirinya harus terpenuhi. Perkembangan ini membuat tidak seimbangnya struktur kepribadiannya, keinginannya yang selalu terwujud inilah yang membuat struktur id berkembang  sedangkan sego yang menahan id tidak bekerja.

Apabila ini terus berulang kemungkinan besar ia bisa mengalami  kelainan kepribadian atau bisa kita sebut sebagai psikopat.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Perkembangan Kepribadian

Freud percaya bahwa selama lima tahun pertama kehidupan, individu mengalami beberapatahap perkembangan yang mempengaruhi kepribadian.  Dengan menerapkan definisi luas dari seksualitas, ia menamakan periode tersebut psychosexsual development. Menurut Sigmund Freud, berdasarkan pembagiannya pada perkembangan psikoseksual teradapat  fase-fase tertentu. Fase-fase tersebut yaitu:

  1. Fase Infantile (0,0 – 6,0 tahun)

Fase ini dibedakan menjadi tiga yaitu: pertama, Fase oral (0,0-1,5 tahun). Selam periode ini, bayi mendapatkan kenikmatan dari aktivitas menyusu dan menhisap mulai memasukkan segala sesuatu yang dapat mereka raih kedalam mulutnya. Bayi akan menelannya apabilayang ada dalam mulut meyenangkan dan akan menyemburkan apabila yang ada dalam mulutnya  dirasakan tidak menyenangkan.  Minat mulut untuk ememnuhi kepuasan ini tidak akan pernah lenyap walaupun si anak telah tumbuh menjadi orang dewasa. Menurut Freud hal ini dapat dilihat pada banyak orang dewasa yang gemar menghisap rokok dan berciuman. Kesulitan yang dialami oleh bayi pada fase oral akan mengakibatkan energi libidinal terpusat pada fase ini dan individu akan kekurangan energi untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang muncul pada fase-fase berikutnya.

Kedua, Fase anal (1,5-3,0). Freud percaya bahwa anak menemukan kenikmatan selama waktu ini dalam menahan dan mengeluarkan faeces. Jika ibu membimbing dengan penuh kasih sayang dan memuji anak devekasi maka anak mungkin memperoleh pengertian bahwa memproduksi feaces merupakan aktifitas penting. Pengertian ini akan menjadi dasar daripada kreatifitas dan produktifitas.  Hal yang  terpenting pada fase ini adalahanak memperoleh rasa memiliki kekuatan, kemandirian, dan otonomi. Jika orang tua berbuat terlalu banyak bagi anaknya ini berarti bahwa si orang tua mengajari anaknya itu untuk tidak meiliki kesanggupan menjalankan fungsi diri. Jadi fase anal ini anak perlu bereksperimen, berbuat salah atau merasa bahwa mereka tetap diterima untuk kesalahannya itu dan menyadari diri sebagai individu yang terpisah dan mandiri.

Ketiga, Fase falik sekitar 3 sampai 6 tahun, anak mulai memperoleh kenikmatan dari memainkan genitalnya. Mereka mengamati perbedaan antara laki-laki dan perempuan dan memulai mengarahkan impuls seksualnyayang mulai bangkit ke arah orang tua yang berlawanan jenis.

Pada fase falik ini ada Oedipal Complex dan Electra Complex. Oedipal Complex merupakan keinginan anak laki-laki yang terarah kepada ibunya sendiri. Sedangkan permusuhan dilontarkanpada ayah yang dianggap sebagai saingannya. Electra Complex ini kebalikan dari Oedipal Complex, jadi Electra complex ini pada anak perempuan.

2. Fase Latensi (6-12 tahun)

Selama masa tenang seksual ini, anak menjadi kurang memperhatkan tubuhnya dan mengalihkan pwerhatiannya ke kecakapan yang diperlukan mengatasi lingkungannya. Dari sini mulai terbentuk rasa malu dan aspirasi-aspirasi moral serta estetis. Rupanya perkembangan psikoseksual dari tahun pertama sama sekali dilupakan seolah-olah ada aktifitas tahun pertama sama sekali dilupakan seolah-olah ada aktifitas seksual.

3. Fase Pubertas

Dalam fase ini dorongan-dorongan mulai muculkembali. Apabila dorongan-doronan ini dapat ditransfer dan disublimasikan denagan baik, maka akansamai pada masa kematangan terakhir

4. Fase Genital

Karakter genital  merupakan tipe ideal dari kepribadian yakni terapat pada oarang yang mampu mengembangkan retasi seksual yang matang dan bertanggung jawab serta mampu memperoleh kepuasan dari percintaan heteroseksual. Untuk memperileh karakter gintal ini individu haruslah terbebas dari ketidak puasan dan hambatan pada anak-anak. Pengalaman-pengalaman traumatik dimasa anak-anak atau mengalami fiksasi libido maka penyeusaian selama fase genital akan sulit.

Sumber:

Atkinson, R.L.dkk.”Pengantar Psikologi Edisi kesebelas jilid dua”.Batam Centre: Interaksara.

http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/34/jtptiain-gdl-s1-2007-nurhadinim-1688-bab3_410-9.pdf

Dipublikasi di psikoanalisa, psikoanalitik, psychologi, Uncategorized | Meninggalkan komentar

Struktur Kepribadian

Sigmeund Freud, pencipta teori psikoanalatik adalah salah satu tokoh intelektual yang terkenal di abad dua puluh. Apapun kelemahannya sebagai teori ilmiah, penjelasan kepribadian menurut psikoanalitik tetap merupakan teori kepribadian yang paling komprehensif dan berpengaruh tentang kepribadian yang pernah dibuat manusia.

Istilah psikoanalitik ini sendiri diciptakan oleh Sigmeund Freud sendiri dan muncul untuk pertama kali pada tahun 1896. teori psikoanalisa lahir dari praktek dan tidak sebaliknya. Psikoanalisa ditemukan dalam usaha untuk menyembuhkan pasien-pasien histeris. Baru kemudian Freud menarik kesimpulan-kesimpulan teoritis dari penemuannya di bidang praktis. Freud sendiri beberapa kali menjelaskan arti istilah psikoanalisa, tetapi cara menjelaskannya tidak selalu sama. Salah satu cara yang terkenal berasal dari tahun 1923 dan terdapat dalam suatu artikel yang ditulisnya bagi sebuah kamus ilmiah Jerman. Di situ ia membedakan tiga arti. Pertama, istilah “psikoanalisa” dipakai untuk menunjukkan suatu metode penelitian terhadap proes-proses psikis (seperti misalnya mimpi) yang sebelumnya hampir tidak terjangkau oleh penelitian ilmiah. Kedua, istilah ini menunjukkan juga suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguan psikis yang dialami oleh pasien-pasien neurotis. Teknik pengobatan ini bertumpu pada metode penelitian tadi. Ketiga, istilah yang sama dipakai pula dalam arti lebih luas lagi untuk menunjukkan seluruh pengetahuan psikologis yang diperoleh melalui metode dan teknik tersebut di atas. Dalam arti terakhir ini kata “psikoanalisa” mengacu pada suatu ilmu pengetahuan yang dimata Freud betul-betul baru

Secara skematis Sigmund Freud mengambarkan jiwa sebagai Gunung Es dimana bagian yang muncul di permukaan air merupakan bagian terkecil yaitu puncak dari Gunung Es itu yang dalam hal kejiwaan adalah bagian kesadaran (conciousnes), agak di bawah permukaan adalah bagian pra kesadaran (sub conciousness) dan bagian terbesar terletak di dasar air yang dalam hal kejiwaan merupakan alam ketidaksadaran (unconciousness). Sehingga dapat dikatakan bahwa kehidupan mausia dikuasai oleh alam ketidaksadaran dan berbagai kelainan tingkah laku dapat disebabkan karena faktor-faktor yang terpendam dalam alam ketidaksadaran.

Maka dari itu untuk mempelajari seseorang kita harus menganalisa jiwa orang tersebut sampai kita dapat melihat keadaan dalam alam ketidaksadarannya, yang selama ini tertutup oleh alam sadar. Sehubungan dengan eksperimen-eksperimen yang dilakukan dan teori-teori yang dikemukakannya, maka dalam psikoanalisa dikenal adanya tiga aspek yaitu psikoanalisa sebagai teori kepribadian, psikoanalisa sebagai teknik evaluasi kepribadian dan psikoanalisa sebagai teknik terapi (penyembuhan). Freud bukan orang pertama yang menemukan pengaruh mental bawah sadar namun Shakespeare sang sastrawan besar inggrislah yang pertama kali memasukkannya di dalam pertunjukannya, tetapi Freud merupakan orang yang pertama kali menekankan kepentingan primer dalam kehidupan kepribadian normal sehari-hari.

Berhubungan erat dengan perhatian Freud pada proses bawah sadar adalah determinismenya tenang perilaku manuasia. Determinasi psikologi adalah doktrin bahwa semua pikiran, emosi, dan tindakan memiliki penyebab. Freud menyatakan bukan hanya peristiwa psikologi disebabkan alam bawah sadar, tetapi sebagian besar darinya disebabkan oleh dorongan yang tidak terpuaskan dan keinginan yagn tidak disadari. Di dalm salah satu publikasi pertamanya, The Psychopathology of Everday Life (1910) Freud berpendapat bahwa mimpi, humor, lupa, dan kepeleset lidah (“Freudian slips”) semuanya berfungsi menghilangkan ketegangan psikologi dengan memuaskan impuls yang terlarang dan keinginan yang tidak terpenuhi.

  1. Struktur Kepribadian

Freud percaya bahwa kepribadian terdiri dari tiga subsistem utama yang berinteraksi guna mengatur perilaku manusia yaitu: Id,ego,dan super ego

Id, Id merupakan bagian kepribadian yang paling mendasar. Dalam id terdapat naluri-naluri bawaan biologis (seksual dan agresif, tidak ada pertimbangan akal atau etika dan yang menjadi pertimbangan kesenangan) serta keinginan-keinginan yang direpresi. Jadi id sebagai bawaan waktu lahir merupakan bahan dasar bagi pembentukan hidup psikis lebih lanjut.

Id bekerja mengikuti prinsip kesenangan (pleasure principle), id berusaha menghindari rasa sakit dan mengejar kesenangan tanpamempertimbangkan situasi eksternal.

Ego, sistem kepribadian yang didominasikesadaran yang terbentuk seabagai pengaruh individu kepada dunia objek dari kenyataan dan menjalankan fungsinya berdasarkan pada prinsip kenyataan berarti apa yang ada. Jadi ego terbentuk pada struktur kepribadian individu sebagai hasil kontak dengan dunia luar.

Ego mengikuti prinsip realita: pemuasan impuls harus ditunda sampai ditemukan situasi yang tepat. Ego menjadi perantara tuntunan id, realita dunia, dan tuntunan super ego.

Super ego, sistem kepribadian yang berisi nilai-nilai moral bersifat evaluatif (memberikan batasan baik dan buruk). Menurut Freud superego merupakan ineternalisasi individu tentang nilai masyarakat, karena pada bagian ini terdapat nilai moral yang memberikan batasan baik dan buruk.

Tiga komonen kepribadian yang seringkali berlawanan: ego menunda pemuasan yang diinginkan id segera, dan super ego berperang dengan id maupun ego karena perilaku sering kali tidak memenuhi nilai moral yang diwakilinya. Pada kepribadian yang terintegrasi dengan baik, ego tetap merupakan kendali yang kuat tetapi fleksibel; mengatur prinsip-prinsip realita.

Sumber:

Atkinson, R.L.dkk.”Pengantar Psikologi Edisi kesebelas jilid dua”.Batam Centre: Interaksara.

http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/34/jtptiain-gdl-s1-2007-nurhadinim-1688-bab3_410-9.pdf

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar